Jamaah Haji Batuk Pilek ? Berikut Tips Menjaga Imun Pada Puncak Haji

20 views

Share :

MMUNOL.COM – Banyak jemaah haji yang mengalami batuk pilek di tengah cuaca panas terik Arab Saudi. Hal ini perlu mendapat perhatian, terutama saat memasuki puncak haji yang melibatkan pergerakan jemaah ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Jemaah haji diimbau untuk menjaga imunitas tubuhnya agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Liliek Marhaendro Susilo, Ak M.M. mengimbau para jemaah untuk tetap rajin minum air putih minimal 200 ml per jam, termasuk bagi mereka yang sedang batuk pilek. Air putih dapat dicampur dengan oralit untuk membantu rehidrasi tubuh.

Meskipun rangkaian ibadah haji di puncak musim terbilang padat, jemaah diharapkan tidak melewatkan waktu makan dan tetap istirahat yang cukup. Jika merasa kurang sehat, jemaah dapat segera menghubungi petugas kesehatan di kloter masing-masing, “Jangan lupa minum air putih 200 ml per jam. Bisa ditambahkan oralit. Makan makanan bergizi yang disediakan panitia dan cukup istirahat 6-8 jam per hari,” pesan Liliek di Jakarta, ditulis Jumat, 14/6/2024.

“Dianjurkan pakai masker dan minum vitamin, ya. Bagi yang memiliki penyakit komorbid, minum obat teratur. Bila ada keluhan, hubungi dokter kloter atau ke pos satelit.”

Kebutuhan obat-obatan, seperti obat flu yang sangat dibutuhkan jemaah haji, masih tersedia di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan stok yang dibawa oleh petugas kesehatan. Kemenkes RI terus memantau dan memastikan ketersediaan obat untuk penanganan jemaah haji mencukupi, “Obat-obatan masih cukup, termasuk obat flu. Kami monitor jumlah ketersediaan masing-masing jenis obat,” lanjut Liliek.

Bagi jemaah haji yang sakit dan tidak memungkinkan untuk ke Arafah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menyediakan layanan safari wukuf. Safari wukuf dilakukan kepada jemaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

KKHI Makkah menyediakan 10 bus, 4 unit untuk jemaah berbaring dengan kapasitas 6-8 orang, dan 6 unit bus dengan kapasitas 25 orang untuk pelaksanaan safari wukuf.

Safari wukuf juga diperuntukkan bagi jemaah lansia non mandiri yang difasilitasi oleh Bidang Layanan Lansia dan Disabilitas Kementerian Agama RI.

Pada pelaksanaan safari wukuf, Kapuskes Haji Liliek mengatakan, petugas kesehatan melakukan medical check up untuk untuk jemaah dengan risiko tinggi kesehatan, “Tujuannya, menyeleksi jemaah, mana yang perlu disafariwukufkan, mana yang bisa diikutkan rombongan kloternya. Ada proses skrining untuk melihat potensi, apakah jemaah tersebut mesti safari wukuf, atau diikutkan rombongannya atau mungkin dibadalkan,” terangnya.

Prosesi safari wukuf, yakni jemaah diberangkatkan ke Arafah dengan pendampingan petugas. Jemaah salat Zuhur dijamak dengan Ashar, kemudian diberikan khutbah wukuf di bus masing-masing.

“Setelah prosesi wukuf selesai, jemaah dibawa kembali ke KKHI. Jemaah safari wukuf sakit tidak bermalam (mabit) di Muzdalifah, lontar jumrah dan tahapan haji selanjutnya dibadalkan oleh petugas,” sambung Liliek. (**)

Posted in

Berita Lainnya

Berita Terbaru

webad_pasang-iklan

Video

Video

Terbaru
Populer

This is tab content. Click to edit this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Teknologi

Visitor

  • 0
  • 0
  • 54,554
  • 19,310